21 Desember 2008

KONSEP DASAR ISTIRAHAT DAN TIDUR

oleh : erfandi

Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk dapat berfungsi secara optimal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Tidak terkecuali juga pada orang yang sedang menderita sakit, mereka juga memerlukan istirahat dan tidur yang memadai. Namun dalam keadaan sakit, pola tidur seseorang biasanya terganggu, sehingga perawat perlu berupaya untuk mencukupi ataupun memenuhi kebutuhan tidur tersebut.

1. PENGERTIAN

Istirahat merupakan keadaan yang tenang, relaks tanpa tekanan emosional dan bebas dari kegelisahan (ansietas). (Narrow, 1967 : 1645) mengemukakan 6 (enam) ciri-ciri yang dialami seseorang berkaitan dengan istirahat.

Sebagian besar orang dapat istirahat sewaktu mereka :

  1. Merasa bahwa segala sesuatu dapat diatasi
  2. Merasa diterima
  3. Mengetahui apa yang sedang terjadi
  4. Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan
  5. Mempunyai rencana-rencana kegiatan yang memuaskan
  6. Mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan

Sedangkan pengertian tidur antara lain :

q Tidur berasal dari kata bahasa latin "somnus" yang berarti alami periode pemulihan, keadaan fisiologi dari istirahat untuk tubuh dan pikiran.

q Tidur merupakan keadaan hilangnya kesadaran secara normal dan periodik (Lanywati, 2001)

q Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang di alami seseorang, yang dapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Guyton 1981 : 679)

2. TUJUAN TIDUR :

Secara jelas tujuan tidur tidak diketahui, namun diyakini tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan mental emosional dan kesehatan. Selam tidur seseorang akan mengulang (review) kembali kejadian-kejadian sehari-hari, memproses dan menggunakan untuk masa depan.

3. TANDA TIDUR SECARA UMUM

Secara umum tidur ditandai dengan aktivitas fisik minimal, tingkatan kesadaran yang bervariasi, perubahan-perubahan proses fisiologis tubuh dan penurunan respon terhadap rangsangan dari luar. Secara detail tanda-tanda tidur ini akan dibahas pada macam / pola tidur.

4. PROSES FISIOLOGIS TIDUR

q FISIOLOGI TIDUR

Hipotalamus mempunyai pusat-pusat pengendalian untuk beberapa jenis kegiatan tak-sadar dari badan, yang salah satu diantaranya menyangkut tidur dan bangun. Cedera pada hipotalamus dapat mengakibatkan seseorang tidur dalam jangka waktu yang luar biasa panjang atau lama.

Formasi retikuler terdapat dalam pangkal otak. Formasi itu menjulang naik menembus medulla, pons, otak bagian tengah, dan lalu ke hipotalamus. Formasinya tersusun dari banyak sel syaraf dan serat syaraf . Serat-seratnya mempunyai hubungan-hubungan yang meneruskan impuls-impuls ke kulit otak dan ke tali sumsum tulang belakang. Formasi retikular itu memungkinkan terjadinya gerakan-gerakan refleks serta yang disengaja dengan mudah, maupun kegiatan-kegiatan kortikal yang bertalian dengan keadaan waspada.

Di waktu tidur, sistem retikular mendapat hanya sedikit rangsangan dari korteks serebral (kulit otak) serta permukaan luar tubuh. Keadaan bangun terjadi apabila sistem retikular dirangsang dengan rangsangan-rangsangan dari korteks serebral dan dari organ-organ serta sel-sel pengindraan di kulit. Umpamanya saja, jam wekker membangunkan kita dari tidur menjadi keadaan sadar apabila kita menyadari bahwa kita harus bersiap-siap untuk pergi bekerja. Perasaan-perasaan yang diakibatkan oleh kenyerian, kebisingan dan sebagainya, akan membuat orang tidak dapat tidur lewat organ-organ serta sel-sel di kulit badan. Maka keadaan tidak dapat tidur di timbulkan oleh kegiatan kulit otak serta apa yang dirasakan oleh badan; di waktu tidur, rangsangan-rangsangan menjadi minimal.

q Teori Dasar Tidur

Diduga penyebab tidur adalah proses penghambatan aktif. Ada teori lama yang menyatakan bahwa area eksitatori pada batang otak bagian atas, yang disebut “sistem aktivasi retikular”, mengalami kelelahan setelah seharian terjaga dan karena itu, menjadi inaktif. Keadaan ini disebut teori pasif dari tidur. Percobaan penting telah mengubah pandangan ini ke teori yang lebih baru bahwa tidur barangkali disebabkan oleh proses penghambatan aktif. Hal ini terbukti dari suatu percobaan dengan cara melakukan pemotongan batang otak setinggi regio midpontil, dan berdasarkan perekaman listrik ternyata otak tak pernah tidur. Dengan kata lain, ada beberapa pusat yang terletak dibawah ketinggian midpontil pada batang otak, diperlukan untuk menyebabkan tidur dengan cara menghambat bagian-bagian otak lainnya.

Perangsangan pada beberapa daerah spesifik otak dapat menimbulkan keadaan tidur dengan sifat-sifat yang mendekati keadaan tidur alami. Daerah-daerah tersebut adalah :

§ Nuklei rafe, yang terletak di separuh bagian bawah pons dan medula

§ Nukleus traktus solitarius, yang merupakan regio sensorik medula dan pons yang dilewati oleh sinyal sensorik viseral yang memasuki otak melalui syaraf-syaraf vagus dan glossofaringeus, juga menimbulkan keadaan tidur.

§ Beberapa regio diensefalon, yaitu bagian rostral hipotalamus, terutama area suprakiasma dan adakalanya suatu area di nuklei difus pada talamus.

5. MACAM / POLA / TAHAPAN TIDUR

Sejak adanya alat EEG (Elektro Encephalo Graph), maka aktivitas-aktivitas di dalam otak dapat direkam dalam suatu garafik . Alat ini juga dapat memperlihatkan fluktuasi energi (gelombang otak) pada kertas grafik. Penelitian mengenai mekanisme tidur mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam 10 tahun terakhir, dan bahkan sekarang para ahli telah berhasil menemukan adanya 2 (dua) pola/macam/tahapan tidur, yaitu :

  1. Pola tidur biasa atau NREM

Pola / tipe tidur biasa ini juga disebut NREM (Non Rapid Eye Movement = Gerakan mata tidak cepat). Pola tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam tidur gelombang pendek karena gelombang otak selama NREM lebih lambat daripada gelombang alpha dan beta pada orang yang sadar atau tidak dalam keadaan tidur (lihat gambar).Tanda-tanda tidur NREM adalah :

1) Mimpi berkurang

2) Keadaan istirahat (otot mulai berelaksasi)

3) Tekanan darah turun

4) Kecepatan pernafasan turun

5) Metabolisme turun

5) Gerakan mata lambat

Fase NREM atau tidur biasa ini berlangsung ± 1 jam dan pada fase ini biasanya orang masih bisa mendengarkan suara di sekitarnya, sehingga dengan demikian akan mudah terbangun dari tidurnya. Tidur NREM ini mempunyai 4 (empat) tahap yang masing-masing-masing tahap di tandai dengan pola gelombang otak.

1) Tahap I

Tahap ini merupakan tahap transisi, berlangsung selama 5 menit yang mana seseorang beralih dari sadar menjadi tidur. Seseorang merasa kabur dan relaks, mata bergerak ke kanan dan ke kiri, kecepatan jantung dan pernafasan turun secara jelas. Gelombang alpha sewaktu seseorang masih sadar diganti dengan gelombang betha yang lebih lambat. Seseorang yang tidur pada tahap I dapat di bangunkan dengan mudah.

2) Tahap II

Tahap ini merupakan tahap tidur ringan, dan proses tubuh terus menurun. Mata masih bergerak-gerak, kecepatan jantung dan pernafasan turun dengan jelas, suhu tubuh dan metabolisme menurun. Gelombang otak ditandai dengan "sleep spindles" dan gelombang K komplek. Tahap II berlangsung pendek dan berakhir dalam waktu 10 sampai dengan 15 menit.

3) Tahap III

Pada tahap ini kecepatan jantung, pernafasan serta proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi sistem syaraf parasimpatik. Seseorang menjadi lebih sulit dibangunkan. Gelombang otak menjadi lebih teratur dan terdapat penambahan gelombang delta yang lambat.

4) Tahap IV

Tahap ini merupakan tahap tidur dalam yang ditandai dengan predominasi gelombang delta yang melambat. Kecepatan jantung dan pernafasan turun. Seseorang dalam keadaan rileks, jarang bergerak dan sulit dibangunkan. (mengenai gambar grafik gelombang dapat dilihat dalam gambar). Siklus tidur sebagian besar merupakan tidur NREM dan berakhir dengan tidur REM.

  1. Pola Tidur Paradoksikal atau REM

Pola / tipe tidur paradoksikal ini disebut juga (Rapid Eye Movement = Gerakan mata cepat). Tidur tipe ini disebut “Paradoksikal” karena hal ini bersifat “Paradoks”, yaitu seseorang dapat tetap tertidur walaupun aktivitas otaknya nyata. Ringkasnya, tidur REM / Paradoks ini merupakan pola/tipe tidur dimana otak benar-benar dalam keadaan aktif. Namun, aktivitas otak tidak disalurkan ke arah yang sesuai agar orang itu tanggap penuh terhadap keadaan sekelilingnya kemudian terbangun. Pola / tipe tidur ini, ditandai dengan :

1) Mimpi yang bermacam-macam

Perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktu tahap tidur NREM dan tahap tidur REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM dapat diingat kembali, sedangkan mimpi selama tahap tidur NREM biasanya tak dapat diingat. Jadi selama tidur NREM tidak terjadi konsolidasi mimpi dalam ingatan.

2) Mengigau atau bahkan mendengkur (Jw. : ngorok)

3) Otot-otot kendor (relaksasi total)

4) Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih cepat

5) Perubahan tekanan darah

6) Gerakan otot tidak teratur

7) Gerakan mata cepat

8) Pembebasan steroid

9) Sekresi lambung meningkat

10) Ereksi penis pada pria

Syaraf-syaraf simpatik bekerja selama tidur REM. Dalam tidur REM diperkirakan terjadi proses penyimpanan secara mental yang digunakan sebagai pelajaran, adaptasi psikologis dan memori (Hayter, 1980:458). Fase tidur REM (fase tidur nyenyak) ini berlangsung selama ± 20 menit. Dalam tidur malam yang berlangsung selama 6 – 8 jam, kedua pola tidur tersebut (REM dan NREM) terjadi secara bergantian sebanyak 4 – 6 siklus.

15 Desember 2008

A. KONSEP DASAR

1. Ciri-Ciri Masyarakat Sehat
a. peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat
b. mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
c. peningkatan upaya kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar yang dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup
d. peningkatan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan status sosial ekonomi masyarakat
e. penurunan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab dan penyakit

2. Indikator Masyarakat sehat
Menurut WHO beberapa indikator dari masyarakat sehat adalah :
a. Keadaan yang berhubungan dengan status kesehatan masyarakat, meliputi :
1) indikator komprehensif- angka kematian kasar menurun
- rasio angka mortalitas proporsial rendah
- umur harapan hidup meningkat

2) indikator spesifik- angka kematian ibu dan anak menurun
- angka kematian karena penyakit menular menurun
- angka kelahiran menurun

b. Indikator pelayanan kesehatan
1) rasio antara tenaga kesehatan dan jumlah penduduk seimbang
2) distribusi tenaga kesehatan merata
3) informasi lengkap tentang jumlah tempat tidur di rumah sakit, fasilitas kesehatan lain, dsb.
4) Informasi tentang jumlah sarana pelayanan kesehtan diantaranya rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin, dsb.

B. PROSES KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Kegiatan yang dilakukan dalam pengkajian adalah :

a. Pengumpulan data meliputi :
1) Data umum
- lokasi daerah binaan
- keadaan geografi
- luas wilayah
- pola demografi

2) Data khusus
a. Data kultural
- Tingkat pendidikan
- Pekerjaaan
- Tingkat sosial ekonomi
- Kebudayaan dan kebiasaan

b. Data kesehatan (cakupan pelayanan kesehatan)
- Kesehatan lansia
- Keadaan gizi masyarakat (lansia)
- Penyakit-penyakit yang diderita lansia

c. Keadaan kesehatan lingkungan
- perumahan
- sumber air bersih
- tempat pembuangan sampah
- pembuangan air kotor
- jamban
- dan sebagainya

d. Peran serta masyarakat dalam upaya kesehatan yang dijalankan
e. Sumber daya masyarakat
f. Dan lain-lain

2. Pengolahan Data
Langkah-langkah dalam pengolahan data meliputi :
a. klasifikasi/katagorisasi data
b. perhitungan prosentase cakupan menggunakan Telly
c. tabulasi data
d. interpretasi data

3. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan untuk mengaitkan data dan menghubungkan data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga dapat diketahui kesenjangan atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat apakah masalah itu masalah keperawatan atau masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat

4. Perumusan masalah
Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat. Dan semua masalah tersebut tidak mungkin dapat diatasi sekaligus. Oleh karena itu diperlukan prioritas masalah

5. Prioritas Masalah
Dalam menentukan prioritas masalah perawatan dan kesehatan masyarakat perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebagai kriteria, diantaranya adalah :
a. perhatian masyarakat
b. prevalensi
c. berat ringannya masalah
d. kemungkinan masalah untuk diatasi
e. tersedianya sumber daya masyarakat
f. aspek politis

6. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan mengandung komponen utama, yaitu :
a. Problem (masalah); yang merupakan kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya terjadi.

b. Etiologi (penyebab); menunjukkan penyebab masalah kesehatan atau keperawatan yang dapat memberikan arah terhadap intervensi keperawatan, yang meliputi :
1) perilaku individu, keluarga, kelompok dan masyarakat lansia
2) lingkungan fisik, biologis, psikologis dan sosial lansia
3) interaksi perilaku dan lingkungan

c. Sign/Simptom
1) informasi yang perlu untuk merumuskan diagnosa
2) serangkaian petunjuk timbulnya masalah

Untuk menegakkan diagnosa keperawatan minimal harus mengandung 2 komponen tersebut diatas, disamping mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1) kemampuan masyarakat untuk menanggulangi masalah
2) sumber daya yang tersedia dari masyarakat
3) partisipasi dan peran serta masyarakat

7. Perencanaan
Rencana keperawatan yang disusun harus mencakup :
a. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai
•Kriteria rumusan tujuan adalah :
1) berfokus kepada masyarakat
2) jelas dan singkat
3) dapat diukur dan diobservasi
4) realistik
5) waktu relatif dibatasi (jangka pendek, menengah, dan panjang)
6) melibatkan peran serta masyarakat

b. Rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
c. Kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan
•Kriteria dalam perencanaan :
1) memakai tata kerja yang tepat
2) dapat dimodifikasikan
3) bersifat spesifik
a. siapa yang akan melakukan ?
b. dimana dilakukan ?
c. kapan dilakukan ?
d. bagaimana melakukan ?
e. frekuensi melakukan ?

8. Pelaksanaan (implementasi)
•Prinsip-prinsip dalam pelaksanaan keperawatan adalah:
a. berdasarkan respon masyarakat
b. disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia pada masyarakat
c. meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pemeliharaan diri sendiri serta lingkungannya
d. bekerja sama dengan profesi lain
e. menekankan pada aspek peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
f. mempertimbangkan kebutuhan kesehatan dan perawatan masyarakat secara essensial
g. memperhatikan perubahan lingkungan masyarakat
h. melibatkan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan keperawatan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan keperawatan adalah :
a. keterlibatan petugas kesehatan non-keperawatan, kader, tokoh masyarakat, dalam rangka alih peran
b. terselenggaranya rujukan medis dan rujukan kesehatan
c. keterpaduan (tenaga, biaya, waktu, lokasi, sarana dan prasarana) dengan pelayanan kesehatan maupun sektor lainnya.
d. Setiap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan dicatat pada catatan yang disediakan.

9. Penilaian (Evaluasi)
•Kegiatan yang dilakukan dalam penilaian adalah :
a. membandingkan hasil tindakan yang dilaksanakan dengan tujuan yang telah ditetapkan
b. menilai efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian sampai dengan pelaksanaan
c. hasil penilaian keperawatan diguanakan sebagai bahan perancanaan selanjutnya apabila masalah belum teratasi

Contoh : Asuhan Keperawatan Gerontik pada Tingkat Masyarakat di RW : 007 Kelurahan Mawar
Kabupaten Nanas.
RW : 007 : - terdiri atas 10 RT
- Luas 3 ha
- Total Populasi : 1500
- Total Populasi lansia : 565
- Terdapat 756 keluarga
- densitas 5000/km2
- 65% penduduk dengan pendidikan SD & SMP
- sosial ekonomi rendah dengan pendapat/penghasilan rata-rata < Rp. 150.000,- per bulan.
- Rumah sebagian besar (85%) tidak permanen
- Ada organisasi karang taruna, PKK, kelompok pengrajin, karang werdha
- Jumlah kader kesehatan 7 orang dan tidak aktif
- Pengunjung posyandu lansia : 25 lansia

Data Nasional :
- umur harapan hidup : (di tulis berdasarkan data statistik yang ada)
- Total angka kematian lansia : (di tulis berdasarkan data statistik yang ada)
- angka kematian lansia karena penyakit tidak menular : (di tulis berdasarkan data statistik yang ada)
- angka kematian lansia karena penyakit menular : (di tulis berdasarkan data statistik yang ada)
- Diarrhen : * (Sub Dit P2D) lebih dari 1/3 lansia meninggal karena diarhe
* National Health Survey tahun 1999 = 40% masyarakat menderita diarhe
* Sasaran tahun 2000 = angka kematian diarhe menurun dari 40% menjadi 30%
* 5 penyebab utama kematian lansia adalah :

No Penyebab Tahun 2003 Tahun 2004
1 Diarrhen 25 % 55%
2 Acut Respiration Infection 15% 25%
3 Tetanus 10 % 7%
4 Cancer 5% 3%
5 DM 4% 8%

Data Wilayah setempat :
1. Dari puskesmas
- bulan januari s/d oktober 2004 : pengunjung (lansia) dengan penyakit diarhe menempati urutan ke-1.
- Kejadian luar biasa tahun 2003 : out break = 25 lansia meninggal diantara 250 penderita

2. Observasi lingkungan
- penyediaan air bersih kurang, air bersih dibeli, tiap keluarga perlu 50 liter air dengan harga Rp. 4.500,- / pikul.
- Masyarakat dan lansia MCK di sungai
- Ada sumur pompa dalam yang dibangun oleh PAM, tetapi sudah tidak berfungsi lagi sejak 5 tahun yang lalu

3. Hasil kunjungan rumah
- selokan tidak mengalir
- tiap RT telah memiliki tenag pengangkut sampah
- lansia saat bekerja di rumah tidak memakai alas kai, jarang cuci tangan sebelum makan
- perumahan padat, dengan ventilasi yang jelek dan pencahayaan yang kurang
- menurut LKMD , problem yang dihadapi :
selokan tidak mengalir
tiap RT telah memiliki tenaga pengangkut sampah
lansia saat bekerja tidak memakai alas kai, jarang cuci tangan sebelum makan
perumahan padat, dengan ventilasi yang jelek dan pencahayaan yang kurang
kasus TB banyak
banyak lansia yang jarang ke posyandu lansia

CAMPAK / MORBILI

oleh : ERFANDI

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. DEFINISI

o Campak adalah penyakit infeksi menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadium konvalesensi.

o Campak adalah suatu infeksi akut yang sangat menular ditandai oleh gejala prodormal panas, batuk, pilek, radang mata disertai dengan timbulnya bercak merah makulopapurer yang menyebar ke seluruh tubuh yang kemudian menghitam dan mengelupas.

2. ETIOLOGI

Penyebabnya sejenis virus yang tergolong dalam family Paramixovirus, yaitu genus virus morbili yang terdapat dalam secret nasofaring dan darah selama prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak.

Cara penularannya adalah dengan droplet dan kontak langsung.

3. MANIFESTASI KLINIS

a. Masa tunas 10 – 20 hari tanpa gejala.

b. Stadium kabaral / prodormal.

Berlangsung 4 – 5 hari disertai panas, malaise, batuk, fotopobia, konjungtivitis, bercak koplik coryza.

c. Stadium erupsi.

Berlangsung 2 – 3 hari setelah stadium prodormal. Timbul enantema pada palatum mole, pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula, splenomegali, adanya ras makulo papous pada seluruh tubuh dan panas tinggi serta biasanya terjadi black measles.

d. Stadium konvalesensi (penyembuhan).

Erupsi berkurang meninggalkan hiperpigmentasi yang akan menghilang sendiri serta suhu menurun sampai menjadi normal.

4. PATOFISIOLOGI

Penularan terjadi secara droplet dan kontak virus ini melalui saluran pernafasan dan masuk ke system retikulo endothelial, berklembang biak dan selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh. Hal tersebut akan menimbulkan gejala pada saluran pernafasan, saluran cerna, konjungtiva dan disusul dengan gejala patoknomi berupa bercak koplik dan ruam kulit. Antibodi yang terbentuk berperan dalam timbulnya ruam pada kulit dan netralisasi virus dalam sirkulasi. Mekanisme imunologi seluler juga ikut berperan dalam eliminasi virus.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni.

b. Dalam sputum, sekresi nasal, sediment urine dapat ditemukan adanya multinucleated giant sel yang khas.

c. Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemaglutination inhibition test dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1 – 3 hari setelah timbulnya ras dan mencapai puncaknya pada 2 – 4 minggu kemudian.

6. PENATALAKSANAAN TERAPI

Morbili merupakan suatu penyakit self – limiting, sehingga pengobatannya hanya bersifat symtomatik, yaitu:

o Memperbaiki keadaan umum.

o Antipiretika bila suhu tinggi.

o Seldativum.

o Obat batuk.

Antibiotic diberikan bila ada infeksi sekunder. Kortikosteroid dosis tinggi biasanya diberikan kepada penderita morbili yang mengalami ensefalitis, yaitu:

o Hidrokostison 100 – 200 mg/hari selama 3 – 4 hari.

o Prednison 2 mg/kgBB/hari untuk jangka waktu 1 minggu.


B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

a. Biodata

o Anak yang sakit.

o Orang tua.

b. Riwayat kesehatan

o Keluhan utama.

o RPS (demam tinggi, anoreksia, malaise, dll).

o Riwayat kesehatan lalu.

o Riwayat kesehatan keluarga.

o Riwayat kehamilan (anak yang sakit). ANG…..x, imunisasi……x, ada kelainan / tidak.

o Riwayat imunisasi (bayi dan anak).

o Riwayat nutrisi.

o Riwayat tumbuh kembang.

c. Pola aktivitas sehari-hari

o Nutrisi / minum : 1) Dirumah

2) Dirumah sakit

o Tidur / istirahat : 1) Dirumah

2) Dirumah sakit

o Kebersihan : 1) Dirumah

2) Dirumah sakit

o Eliminasi : 1) Dirumah

2) Dirumah sakit

d. Pemeriksaan fisik

o K/U lemah

o TTV (suhu di atas 38oC)

o Pemeriksaan mulai dari kepala – musculoskeletal termasuk neurology.

e. Pemeriksaan penunjang

o Pemeriksaan darah

o Pemeriksaan sel giant

o Pemeriksaan serologis

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.

b. Ganguan peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi virus.

c. Gangguan rasa aman dan nyaman berhubungan dengan adanya demam, tidak enak bedan, pusing, mulut terasa pahit, kadang-kadang muntah dan gatal.

d. Resiko terjadi komplikasi berhubungan dengan daya tahan tubuh yang menurun.

e. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit.

3. INTERVENSI / IMPLEMENTASI

a. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.

Kriteria – standart:

- Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan peningkatan yang tepat.

- Menunjukkan perilaku / perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat badan yang tepat.

Intervensi Keperawatan:

o Berikan banyak minum (sari buah-buahan, sirup yang tidak memakai es).

Rasional : untuk mengkompensasi adanya peningkatan suhu tubuh dan merangsang nafsu makan

o Berikan susu porsi sedikit tetapi sering (susu dibuat encer dan tidak terlalu manis, dan berikan susu tersebut dalam keadaan yang hangat ketika diminum).

Rasional : untuk memenuhi kebutuhan nutrisi melalui cairan bernutrisi.

o Berikan makanan lunak, misalnya bubur yang memakai kuah, sup atau bubur santan memakai gula dengan porsi sedikir tetapi dengan kuantitas yang sering.

Rasional : untuk memudahkan mencerna makanan dan meningkatkan asupan makanan.

o Berikan nasi TKTP, jika suhu tubuh sudah turun dan nafsu makan mulai membaik.

Rasional : untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh setelah sakit.

b. Ganguan peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi virus.

Criteria – standart:

- Pasien menunjukkan adanya penurunan suhu tubuh mencapai normal.

- Pasien menunjukkan tidak adanya komplikasi.

Intervensi keperawatan:

o Memberikan kompres dingin / hangat.

Rasional : untuk membantu dalam penurunan suhsu tubuh pada pasien.

o Kolaborasi medis untuk pemberian terapi antipiretikum.

Rasional : antipiretikum bekerja untuk menurunkan adanya kenaikan suhu tubuh.

o Pantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi.

Rasional : suhu ruangan / jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap normal.

c. Gangguan rasa aman dan nyaman berhubungan dengan adanya demam, tidak enak bedan, pusing, mulut terasa pahit, kadang-kadang muntah dan gatal.

Kriteria – standart:

- Pasien menunjukkan kenyamanan, tidak merasa gatal lagi.

- Badan kelihatan segar dan tidak merasa pusing.

Intervensi keperawatan:

o Bedaki tubuh anak dengan bedak salisil 1% atau lainnya atas resep dokter.

Rasional : bedak salisil 1% dapat mengurangi rasa gatal pada tubuh anak.

o Menghindari anak tidak tidur di bawah lampu karena silau dan membuat tidak nyaman.

Rasional : lampu yang terlalu terang membuat anak silau dan menambah rasa tidak nyaman.

o Selama demam masih tinggi tidak boleh dimandikan dan sering-sering dibedaki.

Rasional : tubuh yang dibedaki akan membuat rasa nyaman pasa pasien.

o Jika suhu tubuh turun, untuk mengurangi gatal dapat dimandikan dengan PK atau air hangat atau dapat juga dengan bethadine.

Rasional : air hangat / PK dapat mengurangi gatal dan menambah rasa nyaman.

d. Resiko terjadi komplikasi berhubungan dengan daya tahan tubuh yang menurun.

Criteria – standart:

- Pasien menunjukkan peningkatan kondisi tubuh.

- Daya tahan tubuh optimal tidak menunjukkan tanda-tanda mudah terserang panyakit.

Intervensi keperawatan:

o Mengubah sikap baring anak beberapa kali sehari dan berikan bantal untuk meninggikan kepalanya.

Rasional : meninggikan posisi kepala dapat memberikan sirkulasi udara dalam paru.

o Mendudukkan anak / dipangku pada waktu minum.

Rasional : mencegah terjadinya aspirasi.

o Menghindarkan membaringkan pasien di depan jendela atau membawanya keluar selama masih demam.

Rasional : menghindarkan anak terkena angin dan menambah suhu tubuh.

e. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit.

Kriteria – standart:

- Orang tua menunjukkan mengerti tetang proses penyakit.

- Orang tua mengerti bagaimana pencegahan dan meningkatkan gizi agar tidak mudah timbul komplikasi yang berat.

Intervensi keperawatan:

o Memberikan penyuluhan tentang pemberian gizi yang baik bagi anak, terutama balita agar tidak mudah mendapat infeksi.

Rasional : memberikan pengetahuan kepada orang tua.

o Menjelaskan pada orang tua tentang morbili tentang hubungan pencegahan dengan vaksinasi campak dan peningkatan gizi agar tidak mudah timbul komplikasi yang berat.

Rasional : memberikan pengetahuan kepada orang tua tentang pencegahan penyakit anaknya.

4. EVALUASI

a. Suhu tubuh normal / turun (36,7oC – 37,6oC).

b. Cairan dan nutrisi dalam tubuh seimbang.

c. Tubuh tidak merasa gatal.

d. Orang tua / keluarga mengerti mengenai penyakit morbili dan pencegahannya.

C. LITERATUR

Kapita selekta Kedokteran Jilid 2, Jakarta: Media Aesculapius.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.

Rampengan, T. H. 1993. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta: EGC.

Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1985. Buku Kuliah 2 Ilmu KEsehatan Anak FKUI. Jakarta: _______

04 Desember 2008

STENOSIS ARTERI RENAL

OLEH : ERFANDI

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. DEFINISI

Adalah penyempitan arteri pada ginjal

2. ETIOLOGI

Atherosclerosis / dysphasia fibromuscular, there are several other:

- Cancer may obstruct the vessels

- Embolism and thrombosis can cause acute obstruction

3. PATOFISIOLOGI

Sebagian besar penyebab dari penyakit stenosis arteri renal adalah atherosclerosis, dan yang lainnya, namun jarang terjadi adalah cancer pembuluh darah, embolisme dan trombosis. Hasil dari penyebab-penyebab di atas menyebabkan renal arteri stenosis sehingga berpengaruh pada aliran darah yang menuju ke ginjal. Akibatnya aliran darah ke ginjal. Akibatnya aliran darah pada renal terhambat sehinga menyebabkan renal parenkim ischemia dan selanjutnya renal menjadi athropi.

4. MANIFESTASI KLINIS

a. Peningkatan tekanan darah.

b. Penurunan fungsi ginjal.

c. Nyeri pinggang atau abdomen.

d. Peningkatan suhu badan.

e. Pemeriksaan urine mungkin normal.

f. Pemeriksaan darah ditemukan aspartate aminotransfarase dan lactic dehidrogenase.

g. Renal scan menunjukkan tidak ada aliran darah dalam arteri.

5. PENATALAKSANAAN

a. Revascularisasi.

b. Artherial endarterectomi dengan disertai anticoagulant / antiplatelet therapy.

c. Percutaneous transluminal renal angiophaty (PTRA).

Balon kateter dimasukkan melalui femoral arthery di bawah pengawasan radiologic guidance sampai pada tempat yang mengalami penyempitan. Kemudian balon dipompa sehingga memperlebar ukuran lumen arteri.

Kontra indikasi PTRA:

Jika arteri femurnya terdapat luka yang berbahaya maka akan mengakibatkan kerusakan jaringan tubuh yang lain.

6. POHON MASALAH

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

a. Sirkulasi

Tanda:

· Hipertensi

· Takikardia

b. Nyaman / nyeri

Gejala:

· Nyeri pinggang

· Nyeri abdomen

Tanda:

· Gelisah

c. Keamanan

Tanda:

· Demam

· Peningkatan suhu tubuh.

d. Aktivitas / istirahat

Gejala:

· Keletihan

· Kelemahan

· Malaise

e. Eliminasi

Gejala:

· Perubahan pola berkemih, penurunan frekuensi.

· Pemeriksaan urine mungkin normal.

· Kosntipasi.

f. Makanan dan cairan

Gejala:

· Mual – muntah

· anoreksia

g. Sensori

Gejala:

· Gangguan status mental.

· Ketidakmampuan berkonsentrasi.

· Penurunan lapang perhatian.

h. Tes diagnostic

· Pemeriksaan urine mungkin normal.

· Pemeriksaan darah ditemukan asparat aminotransferase dan latic dehidrogenase.

· Renal scan menunjukkan tidak adanya aliran darah dalam arteri.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan ischemia parenkim renal.

b. Gangguan thermoregulasi (hyperthermia) berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.

c. Gangguan eliminasi urine (inkontinensia urine) berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.

d. Resti terjadinya infeksi berhubungan dengan pemasangan PTRA.

e. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan pemasangan PTRA.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan ischemia parenkim renal.

Intervensi keperawatan:

· Observasi nyeri, perhatikan lokasi, karakteristik, dan intensitas (dengan skala).

Rasional : membantu evaluasi derajat ketidak nyamanan dan keefektifan anal kesik.

· Dorong penggunaan teknik relaksasi. Contoh: pedoman imajenasi fisualisasi, aktivitas terapiutik.

Rasional : membantu pasien untuk meningkatkan kemampuan koping menurunkan nyeri dan ketidak nyamanan.

· Berikan tindakan kenyamanan seperti pemijatan punggung.

Rasional : menurunkan tegangan otot, menignatkan relaksasi.

· Kolaborasi dengan dokter: dalam pemberian obat sesuai dengan indikasi.

Rasional : untuk menghilangkan nyeri dan meningkatkan kenyamanan.

b. Gangguan thermoregulasi (hyperthermia) berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.

Intervensi keperawatan:

· Observasi suhu tubuh pasien, perhatikan menggigil atau adanya diaporesis.

Rasional : demam dapat membantu menegakkan diagnosis.

· Berikan kompres hangat.

Rasional : menurunkan suhu tubuh.

· Atur suhu lingkungan, batasi penggunaan linen tebal.

Rasional : suhu ruangan dan penggunaan linen diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.

· Kolaborasi dalam pemberian obat antipiretik.

Rasional : untuk mempercepat penurunan suhu tubuh.

c. Gangguan eliminasi urine (inkontinensia urine) berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.

Intervensi keperawatan:

· Observasi keluaran urine, selidiki penurunan atau penghentian aliran urine.

Rasional : penurunan aliran urine dapat mengindikasi obstruksi / disfungsi.

· Observasi dan catat warna urine, perhatikan hematuria dan atau perdarahan.

Rasional : perubahan warna dapat digunakan sebagai pedoman dalam intervensi medik.

· Awasi tanda vital, kaji nadi, turgor kulit, pengisian kapiler dan mukosa mulut.

Rasional : indicator keseimbangan cairan.

d. Resti terjadinya infeksi berhubungan dengan pemasangan PTRA.

Intervensi keperawatan:

· Pertahankan teknik septic dan antiseptic.

Rasional : meminimalkan kesempatan introduksi bakteri.

· Awasi TTV.

Rasional : peningkatan suhu atau takikardia dapat menunjukkan terjadinya infeksi.

· Tingkat cuci tanganyang baik pada staf dan pasien.

Rasional : menurunkan resiko kontaminasi silang.

· Kaji kulit atau warna, perhatikan adanya erithema, selidiki keluhan nyeri pada daerah tusukan.

Rasional : memberikan informasi dan mewaspadakan staf terhadap tanda dini infeksi.

e. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan pemasangan PTRA.

Intervensi keperawatan:

· Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian dan selalu ada untuk pasien.

Rasional : menanggapi dan memperhatikan keluhan pasien.

· Berikan pengetahuan dasar tentang cara kerja, komplikasi, manfaat dari prosedur yang akan dilakukan.

Rasional : agar pasien dapat lebih bersikap kooperatif tentang tindakan.

C. LITERATUR

Swering, Pamela L. 2000. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.

Doenges E. Marilynn, Moorhouse Frances Mary, Geisster C Alice. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien Edisi 3. Jakarta: EGC

Joice M. Black, dkk. ------. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC.

01 Desember 2008

PERMASALAHAN KONTRASEPSI IUD (Intra Uterine Device)

Oleh :
Erfand


Dalam menggunakan kontrasepsi, keluarga pada umumnya mempunyai perencanaan atau tujuan yang ingin dicapai. Tujuan tersebut diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu menunda / mencegah kehamilan, menjarangkan kehamilan, serta menghentikan / mengakhiri kehamilan atau kesuburan. Tetapi banyak hal yang sering ditemui dan menjadi kendala bagi calon akseptor dalam memilih dan memutuskan penggunaan suatu metode kontrasepsi.
Pemilihan suatu metode kontrasepsi, selain mempertimbangkan efektifitas, efek samping, keuntungan dan keerbatasan-keterbatasan yang melekat pada suatu metode kontrasepsi, juga ada faktor-faktor individual calon akseptor maupun faktor eksternal yang pada akhirnya juga mempengaruhi pengambilan keputusan calon akseptor tersebut.
Kondisi ini juga sering kita temui pada pemilihan metode kontrasepsi IUD, dimana khususnya di Indonesia selama bebrapa tahun terakhir cenderung mengalami penurunan peminat. Faktor-faktor tersebut antara lain :
a. Faktor fisik :
- Adanya penyakit-penyakit tertentu yang merupakan kontraindikasi pemasangan IUD, seperti :
o Penyakit kelamin (gonorrhoe, sipilis, AIDS, dsb)
o Perdarahan dari kemaluan yang tidak diketahui penyebabnya
o Tumor jinak atau ganas dalam rahim
o Kelainan bawaan rahim
o Penyakit gula (diabetes militus)
o Anemia
- Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.

b. Faktor psikologis
- Prosedur medis, termasuk pemeriksaan plevik diperlukan dalam pemasangan IUD seringkali menimbulkan perasaan takut selama pemasangan
- Ketakutan juga dapat terjadi akibat pengalaman individual orang lain yang mengalami nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan IUD. Biasanya menghilang dalam 1 – 2 hari
- Ketakutan akan keluarnya material IUD dari rahim/jalan lahir
- Perasaan malas atau risih karena harus memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu. Untuk melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya ke dalam vagina, sebagian perempuan tidak mau melakukan ini.
- Perasaan risih dan malu karena harus membuka pakaian dalam dan memperlihatkan alat kemaluan pada orang lain (pemeriksa/bidan/dokter).

c. Faktor sosial budaya/agama
- Belum terbiasanya masyarakat setempat dalam penggunaan kontrasepsi IUD
- Padnangan bahwa IUD dapat mempengaruhi kenyamanan dalam hubungan seksual
- Pandangan dari agama-agama tertentu yang melarang atau mengharamkan penggunaan IUD