06 Januari 2009

PROSEDUR MEMBUKA GIPS

A. Pengertian
Patah tulang yang dipasang gips akan pulih kembali setelah 1-6 bulan tergantung kondisi patah tulang dan kecepatan penyembuhan. Pada keadaan ini gips harus dibuka.

B. Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk membuka gips tanpa menimbulkan trauma baru

C. Peralatan
- Pisau gips (alat listrik dengan gergaji tajam yang memutar dan berhubungan dengan kolektor hampa)
- Pembuka gips
- Pisau bedah
- Gunting dan plester / balutan

D. Prosedur
1. Mencuci tangan
2. Menjelaskan pada klien dimana dan bagaimana pisau gips digunakan dan apa yang akan dirasakan. Siapkan pisau gips dan perlihatkan agar klien dapat mendengarkan bunyi suara mesin penggeraknya. Berikan penjelasan mengapa gips tak digunakan lagi. Tekan dengan pen disekitar daerah yang akan dibuka.
3. Membuat garis, sebaiknya di depan samping maleoli pada gips ekstremitas bawah. Pada ekstremitas atas biasanya digunakan bidai sepanjang jari-jari atau permukaan yang lurus. Informasikan pada klien untuk melihat dari bagian samping
4. Menghidupkan pemotong listrik sesuai gambar/garis yang telah dibuat
5. Mengistirahatkan tungkai yang bergips
6. Menyiapkan pisau listrik tersebut . tekan bilah tajam dengan hati – hati dan mantap pada gips agar pisau memotong gips . Dengan pisau gips iris secara perlahan , gips akan terbuka bila pengirisan telah lengkap. Naikkan bilah pemotong sedemikian rupa dan periksalah bilah tersebut di atas / bawah sesuai jarak penglihatan. Gips dipotong berurutan dengan tekanan memutar dan pergerakan sejajar sepanjang garis yang akan dipotong. Pertahankan garis bilah pemotong sepanjang ekstremitas dengan arah lurus ( satu arah )
7. Memotong gips pada kedua sisi. Bila terasa keras pada bagian depan, maka putar ke bagian belakang. Tempatkan bilah pada pembuka gips pada saat yang tepat untuk memotong. Pisahkan pada dua sisi berpasangan dengan membuka pada beberapa bagian sisi sepanjang bidai gips. Tarik gips dengan tangan. Potong cepat bahan gips dan balutan gulungan dengan gunting, jaga gunting tetap terbuka sejajar dengan kulit. Tarik ekstremitas secara hati-hati ke belakang. Pegang agar tetap dapat dipertahankan sesuai posisi seperti pada saat digips .
8. Membersihkan kulit dengan baik memakai sabun yang lunak dan air. Keringkan dengan lap dan berikan krem kulit .
9. Menjelaskan perlunya perawatan tindak lanjut dan latihan atau kunjugan pada ahli fisioterapi .
10. Mendokumentasikan prosedur dan respons klien dalam catatan klien.

PEMASANGAN GIPS

A. Pengertian
Gips adalah suatu bubuk campuran yang digunakan untuk membungkus secara keras area yang mengalami patah tulang. Pemasangan gips dikerjakan 2-3 orang, seorang memasang perban (operator), seorang membantu dan memegang perban pada operator dan orang ke tiga menyangga ektremitas agar posisi tetap. Waktu pemasangan gips sesuai dengan variasi daya rekat bahannya yang pada umumnya 2-6 menit. Harus dijaga agar ektremitas tidak bergerak selama pemasangan.

B. Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak bergerak sehingga dapat menyatu dan fungsinya pulih kembali dengan cara mengimobilisasi tulang yang patah tersebut.

C. Peralatan
- Plester / perban sintetik yang dapat dilebarkan
- Perban gulungan / perban elastik
- Lembaran gips berbentuk anyaman kecil
- Bidai untuk penguat
- Busa gips dari katun, poliester/poliethan untuk menyangga tulang
- Pisau
- Gunting
- Spidol permanen
- Beberapa lembar polietilen/koran untuk alas lantai
- Sarung tangan sekali pakai untuk melindungi tangan operator
- Wadah plastik besar berisi air bersuhu ruang 21-24° C atau sesuai petunjuk dari pabrik gips
- Krem tangan yang dipakai setelah pemasangan gips sintetik

D. Prosedur
1. Mencuci tangan
2. Membentangkan polietilen/koran di lantai
3. Menjelaskan pada klien apa yang akan dirasakan (rasa hangat pada saat pemasangan perban)
4. Mengukur perban gulung dan lembaran gips pada bagian ekstremitas yang akan di imobilisasikan
- Lembar gips diatur sedemikian rupa agar teratur masing-masing tersusun berlapis sampai habis ½ rol gips
- Beberapa lembar gips tambahan diletakkan diatas untuk penyangga tulang okranon, maleoli dan patella
- Lembar gips dipasang dari ujung distal sampai pada proksimal ektremitas. Bila terlalu banyak gips yang digunakan akan memungkinkan pemborosan dan menekan daerah dibawah pemasangan gips.
- Bagian tengah balutan perban tetap tegak pada air (suhu ruangan) untuk beberapa menit dan menjadi lunak agar mudah digunakan. Periksa langsung bahan gips sintetik
- Memeriksa efek air terhadap kekuatan rekat/tidak lentur pada tengah balutan oleh operator dengan hati-hati agar tak jatuh. Kekuatan maksimal dihasilkan oleh gips sintetik dari reaksi kimia
5. Mulai dari ujung distal, balutkan gips dengan baik dan tepat pada ektremitas, secara berlapis sampai habis ½ rol. Jaga gerakan gips dan tetap menempel dengan baik pada permukaan ektremitas. Secara hati-hati kombinasikan balutan berurutan kebawah dan balikkan tiap balutan menuju ke posisi bawah dengan tungkai dan tulang jari (ujung jari) secara melingkat atau memanjang. Jaga kombinasi susunan bawah gips agar sejajar dengan permukaan gips (tanpa penekanan) dan berlapis-lapis sehingga membentuk gambaran huruf V.
6. Potong gips sesuai ukuran dengan pisau tajam. Pasang perban gulung diatas susunan gips dan sesuaikan dengan bahan gips
7. Mengakhiri pemasangan gips dengan krem tangan gips untuk menjaga agar permukaan kulit luar tetap halus
8. Tanyakan pada klien jika hal ini menyebabkan ketidak nyamanan atau nyeri
9. Mencatat diagnosa dan data kecelakaan dan pemasangan gips dengan spidol permanen pada permukaan gips setelah mengering
10. Menghindarkan gips terhadap jari-jari tangan selama pasien bergerak. Keringkan dengan menganginkan gips agar hangat, sirkulasi lancar dan alirkan udara. Atau kipaskan udara diatas gips dengan kipas berputar untuk mempercepat penguapan air.
11. Mendokumentasikan prosedur dan respons klien pada catatan klien.

EVAKUASI FECES MANUAL

A. Pengertian
Impaksi fekal adalah retensi feces yang mengeras pada rektum atau simoid bagian bawah. Klien sering mengeluh konstipasi, nyeri pada dubur. Banyak terjadi pada klien dengan gangguan neurologis atau psikosis. Untuk mengatasi komplikasi lebih lanjut, feces perlu dikeluarkan secara manual.

B. Tujuan
Prosedur ini bertujuan mengeluarkan feces yang mengeras dari rektum atau sigmoid bawah.

C. Persiapan Alat
- Sarung tangan bersih (tidak perlu steril)
- Pelumas
- Bedpan
- Alas karet
- Sabun
- Air
- Lap mandi

D. Prosedur
1. Mencuci tangan
2. Menjelaskan manifestasi dan timbulnya impaksi feces, tujuan pengeluaran feces secara manual dan akibat yang akan terjadi bila rektum dirangsang berlebihan
3. Menyiapkan klien sesuai prosedur; mengukur denyut nadi, menjelaskan prosedur pada klien, terutama adanya rasa tidak nyaman yang disebabkan oleh manipulasi rektum
4. Mengatur posisi klien (miring ke kiri dengan kaki kanan fleksi)
5. Menyelimuti klien dari pinggang ke bawah
6. Memasang alas karet dibawah bokong klien
7. Meletakkan bedpan pada tempat yang memudahkan pelaksanaan tindakan (di samping klien)
8. Memakai sarung tangan dan memberi pelumas pada jari telunjuk dan jari tengah
9. Memasukkan jari ke rektum klien dan mendorong pelan-pelan sepanjang dinding rektum sampai teraba feces
10. Melepaskan feces dari dinding rektum dengan membuat gerakan melingkar di sekitarnya dan memasukkan jari ke dalam feces yang keras untuk memisahkan feces
11. Menarik feces ke anus dan mengeluarkan sedikit demi sedikit dan memasukkan feces ke bedpan
12. Mengobservasi irama jantung, perdarahan, rasa nyeri dan tanda kelelahan pada klien (napas pendek, berkeringat) secara periodik selama prosedur berlangsung; menghentikan prosedur bila ada perubahan irama jantung dan memberi istirahat pada klien sebelum prosedur dilanjutkan
13. Merangsang sfingter rektum dengan membuat gerakan melingkar satu atau dua kali
14. Bila langkah no. 13 tidak berhasil mengeluarkan feces, memasukkan jari telunjuk danjari tengah dan membuat gerakan menggunting dengan kedua jari untuk memisahkan feces. Menggunakan langkah no. 11 dan 13, sampai semua massa fekal yang teraba dikeluarkan
15. Membersihkan dan mengeringkan daerah rektum sehingga klien merasa nyaman dan bisa beristirahat
16. Mengamati isi bedpan dan merapikan peralatan
17. Mencuci tangan
18. Mendokumentasikan warna, konsistensi, bau feces dan respons klien dalam catatan klien

IRIGASI KOLON DENGAN ENEMA HIPERTONIK

IRIGASI KOLON DENGAN ENEMA HIPERTONIK
A. Pengertian
Irigasi ini disebut juga enema Fleet. Jenis irigasi yang merupakan enema cara lama dan mudah menggunakannya karena hanya sedikit cairan yang digunakan untuk merangsang peristaltik dan membantu memperlancar defekasi. Unit enema jenis ini berisi 240 ml cairan yang diberikan pada suhu ruangan. Tidak ada persiapan khusus, siap digunakan bila dipergunakan. Ujung yang ada pelumasnya dimasukkan ke dalam rektum/kolon dan cairan disemprotkan dengan ujung botol palstik yang elastik

B. Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk mengurangi konstipasi/pengerasan feces, membersihkan saluran cerna bagian bawah yang diprioritaskan pada pembedahan, melahirkan anak atau pemeriksaan diagnostik, membantu mengeluarkan defekasi pada klien yang tidak berfungsi persyarafan eleminasinya.

C. Kontra indikasi irigasi kolon reguler
 Hemorrhoid yang mudah berdarah
 Keganasan kolon/rektum

D. Persiapan Alat
- Botol khusus enema-hipertonik sekali pakai
- Pelumas
- Alas karet
- Selimut mandi
- Kertas toilet
- Bedpan/pispot atau commode
- Handuk
- Lap mandi
- Sarung tangan sekali pakai

E. Prosedur
1. Mencuci tangan
2. Menjelaskan tujuan pemberian enema
3. Menjelaskan rasional setiap langkah pada prosedur
4. Menutup pintu/memasang penyekat ruangan/tirai
5. Mengatur posisi klien, miring kiri dangan kaki kanan fleksi
6. Memasang alas karet di bawah bokong klien
7. Memasang selimut mandi dengan hanya memperlihatkan daerah anal
8. Meletakkan bedpan dekat tempat tidur
9. Mencuci tangan
10. Memasang sarung tangan sekali pakai
11. Membuka penutup palstik selang rektal; menambah pelumas pada ujung selang rektal
12. Membuka bokong klien dengan cermat, sampai anus kelihatan; menganjurkan klien untuk bernapas dalam dan menghembuskan napas perlahan melalui mulut
13. Memasukkan ujung botol ke rektum dengan cermat, mendorong sampai 7,5-10 cm
14. Meremas botol enema sampai semua cairan memasuki kolon dan rektum
15. Meletakkan kertas toilet sekitar anus dan mencabut selang dengan cermat
16. Menerangkan pada klien bahwa perasaan kembung yang timbul, merupakan hal biasa. Menganjurkan klien untuk menhan cairan selama mungkin sambil berbaring dengan tenang ditempat tidur
17. Membuang wadah enema pada tempatnya
18. Membuka sarung tangan secara terbalik dan membuangnya pada tempatnya
19. Membawa klien ke toilet atau mendudukkannya pada pispot/commode; mengingatkan klien untuk tidak menyiram toilet sebelum dilihat perawat
20. Mengamati karakteristik feces dan cairan yang keluar
21. Membantu klien untuk membersihkan daerah anus dengan air dan sabun
22. Mencuci tangan
1. Mendokumentasikan hasil enema dan reaksi klien pada catatan klien.

IRIGASI KOLON DENGAN ENEMA REGULER

A. Pengertian
Enema adalah pemberian cairan ke dalam rektum dan kolon dengan menggunakan selang. Enema diberikan untuk merangsang peristaltik dan segera mengeluarkan feces. Enema pembersih digunakan untuk mengeluarkan sisa-sisa pencernaan yang terutama dilakukan untuk pemeriksaan dengan sinar-x (rontgen) atau bila perut mengeras/tegang karena tidak dapat flatus

B. Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk mengosongkan isi rektum/kolon dari gas, feces atau mukus dan membilas saluran pencernaan bagian bawah untuk radiologi, persiapan operasi atau pemeriksaan lain.

C. Kontra indikasi irigasi kolon reguler
 Hemorrhoid yang mudah berdarah
 Keganasan kolon/rectum

D. Persiapan Peralatan
- Wadah enema/irigator (wadah khusus untuk irigasi)
- Cairan yang dianjurkan untuk enema (air hangat 40,5-43° C atau sesuai progaram medis)
- Selang rektal yang sesuai ukurannya
- Konektor
- Klem pipa
- Termometer kimia
- Pelumas
- Alas karet
- Selimut mandi
- Kertas toilet
- Bedpan (pispot)/commode
- Lap mandi
- Sarung tangan sekali pakai

E. Prosedur
1. Mencuci tangan
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemberian enema
3. Menutup pintu/memasang penyekat ruangan/tirai
4. Mengatur posisi klien; miring kiri dan kaki kanan fleksi
5. Memasang alas karet dibawah bokong klien
6. Memasang selimut mandi dengan hanya memperlihatkan daerah anal
7. Merakit wadah enema; memasang konektor, selang rektal dan klem
8. Menutup klem
9. Memasukkan cairan enema hangat ke dalam wadah (merendam wadah NaCl dalam air panas sebelum menuang ke wadah enema), memeriksa suhu air dengan termometer kimia atau dengan meneteskannya pada pergelangan tangan bagian dalam
10. Meninggikan wadah, melepaskan klem dan mengalirkan cairan ke dalam selang
11. Menutup klem kembali
12. Meletakkan bedpan dekat tempat tidur
13. Mencuci tangan
14. Memasang sarung tangan
15. Memberikan pelumas pada pipa rektal sepanjang 7,5-10 cm
16. Membuka bokong klien dengan cermat sampai anus terlihat; menganjurkan klien untuk bernapas dalam dan menghembuskan napas melalui mulut.
17. Memasukkan ujung selang rektal sepanjang 7,5-10 cm (dewasa), 5-7,5 cm (anak), 2,5-3,25 cm (bayi) lalu mencabut selang segera bila ada hambatan
18. Memegang selang rektal sampai cairan habis
19. Membuka klem pengatur dan mengalirkan cairan; memegang wadah setinggi paha klien
20. Meninggikan wadah perlahan sampai setinggi 30-45 cm diatas anus. Lama waktu pemasangan infus tergantung dari jumlah cairan yang dialirkan (1 liter = 10 menit)
21. Merendahkan wadah atau menutup klem bila klien mengeluh kram perut atau cairan mengalir dari sekitar selang
22. Menutup klem setelah semua cairan dialirkan masuk
23. Meletakkan kertas toilet sekitar anus dan mencabut selang dengan cermat
24. Memberi tahu klien bahwa perasaan kembung yang timbul, merupakan hal yang biasa. Menganjurkan klien untuk menahan cairan selama mungkin sambil berbaring dengan tenang di tempat tidur. (untuk anak/bayi, memegang bokong anak selama beberapa menit)
25. Merapikan wadah enema, mencuci, mengeringkan dan menyimpan kembali
26. Membuka sarung tangan secara terbalik, dan membuang pada tempatnya
27. Membawa klien ke toilet atau menundukkannya pada pispot/commode; mengingatkan klien untuk tidak menyiram toilet sebelum dilihat perawat.
28. Mengamati sifat feces dan cairan yang keluar
29. Membantu klien untuk membersihkan daerah anus dengan air dan sabun
30. Mencuci tangan
31. Mendokumentasikan prosedur enema dan respons klien pada catatan klien.

IRIGASI KOLOSTOMI

A. Pengertian
Irigasi kolostomi merupakan prosedur yang harus dilakukan pada klien dengan kanker kolon dan/atau rektum yang telah dibuatkan cara dan lokasi evakuasi kotoran melalui operasi saluran cerna. Irigasi dapat dilakukan paling dini 5-6 hari setelah operasi.

B. Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk mengosongkan isi kolon (dari feces, gas, lendir), membersihkan saluran cerna bagian bawah, menetapkan pola evakuasi yang teratur sehingga kegiatan normal tidak terganggu.

C. Peralatan
- Irigator (wadah khusus untuk irigasi)
- Cairan irigasi (air masak, hangat kuku) 500-1500 cc, atau cairan lain untuk irigasi sesuai program medis
- Selang
- Konektor (penyambung selang)
- Klem (yang bisa dipakai dengan hanya menggunakan satu tangan)
- Kateter karet no. 22 atau 24 atau corong plastik khusus untuk irigasi kolostomi
- Kantung/sarung irigasi (yang bisa ditempelkan)
- Kantung palstik untuk tempat sampah/barang yang basah
- Kertas toilet
- Pelumas

D. Prosedur
1. Mencuci tangan
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur irigasi kolostomi pada klien
3. Menyaipkan klien untuk irigasi kolostomi :
- Memilih waktu yang tepat untuk irigasi kolostomi
- Menggantungkan irigator 45-50 cm diatas stoma (setinggi bahu klien, bila duduk)
- Mendudukkan klien di depan commode atau di commode
- Mengangkat balutan/kantung kolostomi dan memasukkan kedalam kantung palstik yang sudah disediakan
4. Memasang lengan (sarung) irigasi ke stoma dan meletakkan ujungnya dalam commode/toilet
5. Mengalirkan cairan melalui selang dan corong irigasi
6. Memberi pelumas pada kateter dan memasukkan ke stoma dengan cermat (tidak boleh lebih dari 8 cm); memegang corong dengan baik
7. Bila kateter tidak bisa masuk dengan mudah, mengalirkan cairan secara perlahan ketika memasukkan kateter dan tidak memaksa kateter masuk
8. Mengalirkan cairan ke kolon perlahan-lahan. Menghentikan cairan (mengklem selang) bila terjadi kram perut dan memberi klien waktu untuk istirahat sejenak, sebelum melanjutkan prosedur. Cairan dialirkan dalam waktu 5-10 menit
9. Mempertahankan corong pada tempatnya selama 10 menit setelah cairan dimasukkan, kemudian angkat perlahan-lahan
10. Memberi waktu selama 10 menit agar cairan mengalir keluar; mengeringkan ujung kantung irigasi dan menempelkan ke atas (mengklem ujung kantung)
11. Mempertahankan kantung di tempat selama 20 menit dan menganjurkan klien untuk ambulasi.
 Kewaspadaan :
Setelah tindakan selesai :
a. Membersihkan dan mengeringkan area stoma dengan air dan sabun
b. Memasang perlindungan kulit dan mengganti balutan pada kolostomi
12. Mendokumentasikan prosedur dan respons klien pada catatan klien
13. Mencuci alat bekas pakai dengan air dan sabun, mengeringkan dan menyimpannya kembali

PERAWATAN ILEOSTOMI

A. Pengertian
Ileostomi merupakan pembukaan ileum ke dinding abdominal melalui operasi sehingga merupakan saluran untuk mengeluarkan isi intestinal. Pasien dengan ileostomi memerlukan perawatan secara teratur khususnya pada area yang terpasang ileostomi.

B. Tujuan
Tujuan prosedur ini untuk mencegah kebocoran, mengkaji integritas kulit di sekitar stoma, membimbing klien mengendalikan bau.

C. Waktu Perawatan
 Setiap pagi, sebelum sarapan atau 2-4 jam setelah sarapan
 Bila perlu, terutama jika klien mengeluh panas atau gatal-gatal pada area stoma.

D. Persiapan Alat
- Perlengkapan perawatan ileostomi (tanpa ban pinggang)
- Sabun
- Air
- Lap mandi
- Kasa
- Pelindung kulit (bubuk karaya, pasta karaya, cincin karaya, stomahesive, dll)
- Piala ginjal
- Plester hipoalergis

E. Prosedur
1. Mencuci tangan
2. Menjelaskan tujuan perawatan ileostomi. Menjelaskan waktu yang tepat untuk melakukan tindakan
3. Mengatur posisi klien sehingga klien merasa relaks dan nyaman
4. Menutup pintu / memasang penyekat ruangan / tirai
5. Membuka area ileostomi; membuka ikat pinggang khusus ileostomi (bila ada)
6. Mengatur posisi lampu; mencuci tangan
7. Membuka peralatan (kantong yang lama). Dengan berdiri pada posisi yang memudahakan untuk melaksanakan prosedur.
8. Mengisi wadah dengan cairan sesuai program medis, mengisi penetes obat dengan cairan; meneteskan beberapa tetes cairan diantara piringan dan kulit. Tidak menarik peralatan secara paksa
9. Membersihkan bekas plester / piringan dengan cairan khusus dan kasa
10. Membersihkan kulit :
- Mengangkat sisa kotoran dengan kertas toilet
- Membersihkan kulit dengan cermat memakai lap mandi, sabun dan air atau menganjurkan klien untuk mandi sebelum memasang kantong yang baru
- Mengeringkan kulit dengan cermat setelah dibersihkan atau setelah mandi
11. Memasang kantung bila tidak ada iritasi kulit :
- Memasang pelindung kulit disekitar stoma, sebelum memasang kantung
- Memasang pelindung kulit lainnya, bila perlu
- Melepas penutup perekat pada piringan atau kantung ileostomi habis pakai dan langsung dipasang pada kulit sekitar stoma
- Menekannya selama 30 detik
12. Menutup kantung bagian bawah dengan menggunakan klip yang tersedia
13. Merapikan peralatan dan mencuci tangan
14. Mendokumentasikan prosedur dan respons klien pada catatan klien