04 Desember 2008

STENOSIS ARTERI RENAL

OLEH : ERFANDI

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. DEFINISI

Adalah penyempitan arteri pada ginjal

2. ETIOLOGI

Atherosclerosis / dysphasia fibromuscular, there are several other:

- Cancer may obstruct the vessels

- Embolism and thrombosis can cause acute obstruction

3. PATOFISIOLOGI

Sebagian besar penyebab dari penyakit stenosis arteri renal adalah atherosclerosis, dan yang lainnya, namun jarang terjadi adalah cancer pembuluh darah, embolisme dan trombosis. Hasil dari penyebab-penyebab di atas menyebabkan renal arteri stenosis sehingga berpengaruh pada aliran darah yang menuju ke ginjal. Akibatnya aliran darah ke ginjal. Akibatnya aliran darah pada renal terhambat sehinga menyebabkan renal parenkim ischemia dan selanjutnya renal menjadi athropi.

4. MANIFESTASI KLINIS

a. Peningkatan tekanan darah.

b. Penurunan fungsi ginjal.

c. Nyeri pinggang atau abdomen.

d. Peningkatan suhu badan.

e. Pemeriksaan urine mungkin normal.

f. Pemeriksaan darah ditemukan aspartate aminotransfarase dan lactic dehidrogenase.

g. Renal scan menunjukkan tidak ada aliran darah dalam arteri.

5. PENATALAKSANAAN

a. Revascularisasi.

b. Artherial endarterectomi dengan disertai anticoagulant / antiplatelet therapy.

c. Percutaneous transluminal renal angiophaty (PTRA).

Balon kateter dimasukkan melalui femoral arthery di bawah pengawasan radiologic guidance sampai pada tempat yang mengalami penyempitan. Kemudian balon dipompa sehingga memperlebar ukuran lumen arteri.

Kontra indikasi PTRA:

Jika arteri femurnya terdapat luka yang berbahaya maka akan mengakibatkan kerusakan jaringan tubuh yang lain.

6. POHON MASALAH

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

a. Sirkulasi

Tanda:

· Hipertensi

· Takikardia

b. Nyaman / nyeri

Gejala:

· Nyeri pinggang

· Nyeri abdomen

Tanda:

· Gelisah

c. Keamanan

Tanda:

· Demam

· Peningkatan suhu tubuh.

d. Aktivitas / istirahat

Gejala:

· Keletihan

· Kelemahan

· Malaise

e. Eliminasi

Gejala:

· Perubahan pola berkemih, penurunan frekuensi.

· Pemeriksaan urine mungkin normal.

· Kosntipasi.

f. Makanan dan cairan

Gejala:

· Mual – muntah

· anoreksia

g. Sensori

Gejala:

· Gangguan status mental.

· Ketidakmampuan berkonsentrasi.

· Penurunan lapang perhatian.

h. Tes diagnostic

· Pemeriksaan urine mungkin normal.

· Pemeriksaan darah ditemukan asparat aminotransferase dan latic dehidrogenase.

· Renal scan menunjukkan tidak adanya aliran darah dalam arteri.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan ischemia parenkim renal.

b. Gangguan thermoregulasi (hyperthermia) berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.

c. Gangguan eliminasi urine (inkontinensia urine) berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.

d. Resti terjadinya infeksi berhubungan dengan pemasangan PTRA.

e. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan pemasangan PTRA.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan ischemia parenkim renal.

Intervensi keperawatan:

· Observasi nyeri, perhatikan lokasi, karakteristik, dan intensitas (dengan skala).

Rasional : membantu evaluasi derajat ketidak nyamanan dan keefektifan anal kesik.

· Dorong penggunaan teknik relaksasi. Contoh: pedoman imajenasi fisualisasi, aktivitas terapiutik.

Rasional : membantu pasien untuk meningkatkan kemampuan koping menurunkan nyeri dan ketidak nyamanan.

· Berikan tindakan kenyamanan seperti pemijatan punggung.

Rasional : menurunkan tegangan otot, menignatkan relaksasi.

· Kolaborasi dengan dokter: dalam pemberian obat sesuai dengan indikasi.

Rasional : untuk menghilangkan nyeri dan meningkatkan kenyamanan.

b. Gangguan thermoregulasi (hyperthermia) berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.

Intervensi keperawatan:

· Observasi suhu tubuh pasien, perhatikan menggigil atau adanya diaporesis.

Rasional : demam dapat membantu menegakkan diagnosis.

· Berikan kompres hangat.

Rasional : menurunkan suhu tubuh.

· Atur suhu lingkungan, batasi penggunaan linen tebal.

Rasional : suhu ruangan dan penggunaan linen diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.

· Kolaborasi dalam pemberian obat antipiretik.

Rasional : untuk mempercepat penurunan suhu tubuh.

c. Gangguan eliminasi urine (inkontinensia urine) berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.

Intervensi keperawatan:

· Observasi keluaran urine, selidiki penurunan atau penghentian aliran urine.

Rasional : penurunan aliran urine dapat mengindikasi obstruksi / disfungsi.

· Observasi dan catat warna urine, perhatikan hematuria dan atau perdarahan.

Rasional : perubahan warna dapat digunakan sebagai pedoman dalam intervensi medik.

· Awasi tanda vital, kaji nadi, turgor kulit, pengisian kapiler dan mukosa mulut.

Rasional : indicator keseimbangan cairan.

d. Resti terjadinya infeksi berhubungan dengan pemasangan PTRA.

Intervensi keperawatan:

· Pertahankan teknik septic dan antiseptic.

Rasional : meminimalkan kesempatan introduksi bakteri.

· Awasi TTV.

Rasional : peningkatan suhu atau takikardia dapat menunjukkan terjadinya infeksi.

· Tingkat cuci tanganyang baik pada staf dan pasien.

Rasional : menurunkan resiko kontaminasi silang.

· Kaji kulit atau warna, perhatikan adanya erithema, selidiki keluhan nyeri pada daerah tusukan.

Rasional : memberikan informasi dan mewaspadakan staf terhadap tanda dini infeksi.

e. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan pemasangan PTRA.

Intervensi keperawatan:

· Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian dan selalu ada untuk pasien.

Rasional : menanggapi dan memperhatikan keluhan pasien.

· Berikan pengetahuan dasar tentang cara kerja, komplikasi, manfaat dari prosedur yang akan dilakukan.

Rasional : agar pasien dapat lebih bersikap kooperatif tentang tindakan.

C. LITERATUR

Swering, Pamela L. 2000. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.

Doenges E. Marilynn, Moorhouse Frances Mary, Geisster C Alice. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien Edisi 3. Jakarta: EGC

Joice M. Black, dkk. ------. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar: